Minggu, 05 Juli 2009

Matahari yang selalu kutunggu….
Hari ini sudah jam enam pagi, aku cepat membuka tirai jendela yang tertutup bekas malam hari kemarin. Ah masih gelap sekali, terpaksa kunyalakan lampu agar bisa jelas menyapu lantai pagi ini. Rupanya mendung masih menggelayuti hari ini, mungkin awan masih enggan pergi dan masih ingin menyelimuti bumi. Memang sekarang sudah musim kemarau tiba, sudah hampir sebulan belum juga turun hujan. Dan semalam hujanpun turun membasahi bumi ini, lumayan untuk membasuh debu-debu di atas dedaunan, membasuh debu-debu di atas permukaan jalanan yang kering dan gersang. Memang tidaklah lebat tapi cukup membuat harum tanah yang beraroma khas menyembul ke permukaan dan terhirup nafas.
Ketika panas terik datang menghampiri bumi ini, aku senang karena cucian bajuku akan kering dengan cepat hari ini, yang akhirnya akan memudahkanku menggosoknya dan bajupun dapat kupakai lagi. Bila hujan terus-menerus datang tiada henti, pakaian tidak kunjung kering juga, menambah habis persediaan pakaian dalam lemari. Bilapun dipaksa kering dengan disetrika malah bau apek akan keluar menyertai. Jika ada matahari menyinari, akupun tak sungkan untuk pergi beraktivitas kesana kemari, karena tidak takut kebanjiran dan tak bisa kembali lagi ke rumah tentunya dengan tepat waktu. Tapi akhir-akhir ini sinar matahari menyengat keras sekali, panasnya membuat kulit wajahku terbakar memerah , belum lagi sinarnya yang membara membuat partikel debu mengering dan semakin mudah untuk terbang kesana kemari tentunya debu itupun membawa berjuta kuman dan penyakit di dalamnya. Akhirnya banyak penduduk bumi mulai terkena penyakit yang diakibatkan kuman, bakteri dan virus dalam udara panas tadi. Belum lagi panas matahari juga membuat dehidrasi badan kita semakin tinggi akibat keringat yang mengucur deras. Dan tidak Cuma itu tentunya, tanah-tanahpun mulai terkena imbasnya, mulai kering dan retak-retak sehingga tidak bisa untuk ditanami. Tentunya ini merugikan petani, karena mereka harus hijrah dari desa dan beralih profesi sebagai kuli, tukang becak, pemulung bahkan pengemis musiman, sungguh ironis sekali negeri yang kaya ini.
Tapi semua itu bukan salahmu Matahariku, engkau hanya menjalankan tugasmu dengan tepat dan pasti, panasmu yang terlalu menyengat datang ke bumi, itu karena kami telah menggunduli hutan-hutan di negeri ini sehingga tidak ada lagi banyak daun-daunan yang menangkap cahayamu untuk fotosintesisnya, dan juga tidak ada angin sepoi yang ditiupkan pepohonan itu lagi. Sehingga oksigen semakin berkurang diudara ini. Belum lagi pembakaran hutan yang semakin banyak terjadi menambah gas-gas berbahaya membanjiri atmosfer kita ini. Ah begitu banyak kesalahan kita penduduk bumi yang merusak lingkungan hidup kita sendiri, aku juga terkadang melakukannya sesekali… Tapi kini aku berusaha untuk tidak melakukannya lagi mulai dari diri sendiri tentunya, anak-anak pun kuajari ini, walau tidak mudah tentunya untuk meninggalkan kebiasaan buruk sehari- hari. Paling tidak dari lima sudah dirubah satu yang diganti dengan hal yang baik. Matahari aku akan selalu menunggu kemunculanmu setiap pagi….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar