Selasa, 07 Juli 2009

Daun Teh yang menghampar , obat penyejuk jiwa...

Ketika aku berjalan-jalan bermaksud menghirup udara sejuk pegunungan yang tentunya menyegarkan badan ini. Kutinggalkan sejenak hiruk pikuk kota yang penuh dengan polusi, debu, sampah yang bertebaran dijalanan (sesekali aku juga ikut melakukannya, ternyata…). Bersama keluarga dan sanak saudara, kami berlibur beberapa hari hitung-hitung menyenangkan anak-anak untuk bermain bebas tanpa takut tersenggol motor atau metromini he he, habis rumah kami dekat jalan yang cukup ramai yang tentunya bising, berdebu dan sumpek dempet-dempetan kaya ikan teri. Walaupun begini aku bersyukur karena sudah ada naungan sendiri tanpa perlu lagi pindah sana dan sini, yang merepotkan serta melelahkan tentunya saja. Kalau dipikir-pikir keseharian kami, bila baru keluar rumah saja sudah stress disambut dengan kemacetan yang menjemput dengan riangnya.. he he kita yang jadi sebel dan kesal tentunya.

Ah akhirnya bisa juga aku menghirup udara segar ini, disetiap mata memandang terhampar tanaman teh yang menghijau rapih, dari jauh bagaikan lembaran permadani tebal yang menyelimuti bukit dan pegunungan disebelahnya. Sesekali kabut menyelimuti, menambah indahnya pemandangan yang kulihat…Subhanallah inilah obat alami dan tanpa efek samping yang disediakan oleh Allah untuk kita semua dengan gratis demi mengobati jiwa setiap insan. Hanya dengan memandang alam ini, hati yang suntuk dan pikiran yang semrawut mendadak sirna dan menghilang pergi, stress pun bergegas menjauhi. Semakin dipandang dan dipandang lagi, semakin terasa ringan dihati. Sejenak aku menjadi seperti manusia yang baru kembali. Tiba-tiba pikiran dan masalah yang menumpuk, mulai dari kerjaan di rumah, anak-anak, kerjaan di kantor, tetangga, dan lainnya menjadi menguap dari kepala. Yang ada hanya rasa rindu padaNya, yang selama ini tertutupi kesibukan diri. Aku melupakan Engkau ya Robbi, yang ada hanya mengejar duniawi ini, menginginkan rumah, mobil, tanah, karir, dan angan-angan lainnya lagi yang selalu mengantri dengan tak ada habisnya. Tentunya saja membuat jiwa dan raga ini lumayan cape sekali. Sholatku hanya sekedar menggugurkan kewajiban, zikirku masih sekedar membasahi bibir tanpa meresap ke dalam hati. Sedekahku masih diiringi omelan sesekali, mungkin tidak bernilai pahala sama sekali. Mataku masih sering tak perduli dengan kekurangan orang lain walaupun terlihat di depanku. Telingaku kadang masih mendengar hal-hal buruk yang membuat aku lupa kepadaMU.

Masih menyelusuri bukit-bukit teh aku bejalan pelan dan tertegun dan berhenti, ketika melihat jurang menganga di bawahnya dengan gemericik suara air yang terdengar indah dari sungai yang memanjang jauh melingkar dan entah dimana akhirnya. Setapak demi setapak aku menuruni bukit kecil itu menuju sungai. Betapa jernih air yang mengalir ini, bebatuan dan kerikil di dalamnya terlihat dengan jelas. Tak sabar aku menciduknya dengan genggaman kedua tanganku, lalu kubasuhkan di wajahku, dingin dan sejuk sekali. Dan aku melangkah naik ke atas sebuah batu yang cukup besar untuk duduk di atasnya, malah muat untuk 3 orangpun bisa. Akupun duduk dan sesekali menggoyangkan kakiku ke dalam air sehingga tercipta cipratan-cipratan air yang berbentuk indah… Semua ini sangat membuat hati menjadi tentram, seandainya saja aku bisa tinggal disini… pikirku menerawang …
Setelah puas bermain dengan air, akupun beranjak menaiki bukit lagi dan berjalan pulang menuju villa lagi. Pasti anak-anak sudah mencari-cari aku, karena tadi aku bilang hanya ingin jalan sebentar melihat kebun teh di atas sana. Tapi ternyata kulirik jam tanganku, sudah satu jam lebih aku berjalan sendirian ini. Yang penting hatiku menjadi riang gembira, dan ketika sampai anak-anak kulihat sedang berenang bersama saudara-saudaranya. Ketika kuhampiri mereka serempak bertanya,”Dari mana aja?” Dan aku hanya menjawab dengan senyuman lebar mengembang. Aku telah menemukan kebahagiaan dengaNya lagi, semoga aku akan selalu menyadari hal ini…amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar