Sewaktu kecil aku dan keluargaku yang senang berlibur ke tepian pantai. Kala itu pantaiku masih bersih, jarang kutemui sampah-sampah yang mengambang di tepiannya. Tapi sekarang bila bermain di tepiannya, kadang kaki ini terantuk dengan bekas bungkus permen, botol aqua bekas, bungkus camilan anak-anak bahkan bonggol jagung yang terayun kesana kemari mengikuti ombak lautan. Jadi membuat malas untuk berenang bermain ombak. Ketika kecil aku akan senang sekali duduk agak menjauh dari pantai, menunggu hingga datangnya ombak yang akan menghembaspak aku ket tepian. Dan aku akan tertawa bahagia walau terkadang air laut yang asin ikut terbawa masuk ke dalam mulutku ketika berteriak kegirangan. Tapi sekarang hal itu sudah tidak aku lakukan lagi, karena hempasan ombak yang menghadang akan melemparkan aku dengan buih-buihnya dan disertai sampah yang turut menyangkut di badanku, sungguh membuatku jadi enggan untuk sekedar melepas rindu bermain dengan ombak.
Bila sempat ke pantai ini, aku hanya berjalan-jalan ditepi pantai mencari keong dan kelomang serta batu-batu karang yang sekarang sudah jarang di dapati lagi. Karena semua itu sekarang sudah dicari oleh penduduk setempat untuk dijual serta dijadikan cindera mata yang menarik hati. Pantaipun sudah mulai panas, karena pohon-pohon kelapa yang dahulu banyak ditanam sudah tidak kelihatan lagi karena tersingkir tempatnya untuk dijadikan arena duduk serta arena bermain anak-anak seperti ayunan, perosotan dan lainnya. Tinggal hanya pohon pantai yang tertinggal, itupun tidak banyak lagi. Pohon bakau yang banyak dulupun sudah hampir tidak ada lagi. Padahal waktu dulu aku akan senang sekali bermain di bawah pohn-pohon bakau itu, akarnya yang menggantung sungguh menarik hatiku, dan juga di bawah akar-akar bakau itu sering kutemui ikan kecil berwarna warni dan sangat menarik hati. Karena pohon-pohon bakau itu sudah tidak ada lagi, maka lautpun bila siang cuacanya sangat panas sekali. Ombak lautpun sering menghantam tepian pantai dan akhirnya meruntuhkan tepiannya, semakin lama semakin banyak tanah daratan yang terkisis ombak. Air lautpun bertambah maju, dan tanah pantaipun akhirnya menjadi sempit. Aku jadi berfikir, bila seperti ini terus nanti lautan akan semakin melebar dan akhirnya sampai ke tepi jalan. Dapat kubayangkan, lama-lama air laut akan naik ke jalan, bila ombak pasang akan menjadi banjir yang disebabkan air laut, huh ngeri sekali…
Semoga kita semua menyadari hal ini, dan cepaat-cepat untuk melakukan penanaman bakau kembali. Agar erosi air laut tidak bertambah besar dan menyusahkan kita sendiri. Semoga bakauku akan menghutan kembali, dimana ia merupakan rumah bagi ikan-ikan kecil yang berwarna warni… Bakau juga mampu menarik burung-burung untuk bertempat tinggal di dalamnya. Bakaupun dengan akarnya yang kuat mampu menahan gelombang air laut yang menghamtam keras. Bakaupun dapat memecah angin, sehingga angin laut yang bertiup kencang akan dibuyarkan oleh rimbunan pepohonan bakau, yang akhirnya angin itu sudah tidak kencang lagi bila sampai di daratan. Kita akhir-akhir ini sering dilanda angin kencang yang memporak-porandakan rumah-rumah, gedung-gedung dan apa saja yang dilaluinya. Begitu banyak arti pohon bakau ini bila kita menyadarinya, Allah telah memberikannya secara Cuma-Cuma untuk kebaikan kita sendiri. Tapi kita justru merusaknya dan memusnahkannya. Bila sudah terjadi musibah baru kita sadar, aliha-alih untuk mencegahnya kitapun membangun tanggul-tanggul tinggi agar air laut tidak naik ke darat. Tapi lagi-lagi tanggul itu kalah oleh ombak laut, pecah dan rubuh, dan air lautpun dengan leluasa bermain ke daratan dan merendam apa saja yang ada di sekitarnya.
Hutan bakau yang diberi Allah ternyata lebih kuat dan tangguh untuk melawan ombak laut, semua itu sudah diaturnya sedemikian rupa. Tidakkah kita bisa membacanya? Marilah sama-sama kita kembali merenungi hal ini dan bersama mengembalikan kembali fungsi alam ini agar tidak ada lagi musibah yang berkunjung tanpa henti…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar