Masa kecilku sering sekali bermain ke laut. Hampir setiap minggu aku, ayah, ibu, adik serta kakakku selalu meluangkan waktu untuk bertamasya ke laut. Jelas aja, lha karena rumahku tidaklah jauh dari laut dan juga karena biaya rekreasi cukup murah tentunya he he. Hanya saja kadang membuatku bosan karena permainan yang ada di tempat rekreasi itu hanya sedikit, hanya ada beberapa ayunan, ataupun perosotan yang sudah usang dan tidak menarik. Tidak seperti tempat rekreasi laut yang ada sekarang ini yang begitu banyak wahana bermainnya yang sangat menarik hati. Tentunya saja kita harus merogoh kocek cukup banyak ya. . seperti di Ancol, atau tempat rekreasi laut lainnya. Tapi aku sudah bersyukur pada waktu itu karena biasa rekreasi murah meriah.
Di laut kampungku itu aku biasa berenang di tepinya saja, ya jelas seumur aku sekolah dasar aku belum bisa berenang, yah bisa diduga pasti aku menggunakan ban sebagai penopang tubuhku. Tapi jangan harap ban renangku itu indah bergambar warna warna ataupun bergambar tokoh kartun seperti Mickey Mouse, Tom and Jerry idola anak-anak masa kini. Ban renangku hanyalah bekas ban dalam mobil yang sudah penuh tambal sana dan sini, itupun dengan menyewa pada penduduk setempat yang juga mendapatkan peluang usaha menyewakan ban. Ternyata penduduk setempat yang pekerjaaan sehari-harinya sebagai nelayan itu, mampu membaca peluang usaha yang ada di depannya. Walhasil pendapatan sampingan mereka jadi cukup lumayan, apalai bila hari liburan sekolah tiba, jelas pengunjung datang berbondong-bondong sampai tempat itu penuh sesak. Wah, Allah memang adil ya, semua mendapatkan rezeki sesuai dengan usaha mereka. Malah waktu itu aku sempat berfikir, "enak sekali ya bisa mendapatkan uang banyak dalam sehari saja?", padahal yang menyewakan ban ban untuk renang itu adalah anak-anak juga, yang bila selepas sekolah mereka membantu orang tuanya dan bila hari libur merekapun bekerja. Ada yang menyewakan ban, ada yang menjual umang-umang (itu lho sejenis keong yang suka ngumpet di dalam pasir di tepi pantai). Aku juga dulu suka membelinya, senang saja memainkannya karena bila kita usik, maka umang-umang itu akan masuk ke dalam cangkangnya yang digunakan sebagai rumah tempat tinggalnya. Ternyata di kota-kota besar masih kudapati penjual umang-umang ini, tapi menariknya mereka telah mengemasnya dengan melukis rumah umang-umang itu dengan berbagai macam gambar yang menarik hati anak-anak maupun orang dewasa. Rupanya penjual umang-umang sudah semakin cerdik dan pintar.
Aku juga suka menangkapi ikan-ikan kecil yang sangat indah dan berwarna warni, ada yang biru, kuning, merah campur hitam. Tapi aku dulu tidak tau namanya, aku hanya menyebutnya sesuai dengan warna ikan itu saja, si kuning, si biru dll. Aku akan memasukkan tangkapanku itu ke dalam ember kecil atau kaleng bekas yang selalu kubawa bila ke laut. Dulu aku dapat dengan mudah menangkap ikan-ikan kecil itu hanya dengan tanggok kecil aja, maka ikan bisa kudapat. Aku juga heran mengapa ikan-ikan itu senang bergerombol banyak di laut dekat bebatuan dan sangat mudah menangkapnya. Dan lucunya aku terkadang menangkap ikan yang tidak berwarna (transparan), tapi oleh ibuku disuruh dilepaskan kembali, katanya ikannya tidak cantik, dan kata ibuku dulu ikan itu namanya ikan Teri, biasa digoreng dan dimakan. Bila ingat itu aku tersenyum sendiri, bagaimana tidak karena sekarang aku masih suka memakan ikan teri itu baik digoreng juga sebagai ikan asinnya he he. Kembali ke ikan-ikan cantik yang berwarna-warni itu, biasanya sesampai di rumah aku senang memandanginya. Tapi beberapa hari kemudian akan mati, ternyata dulu aku mencampur airnya dengan air sumur di rumahku. Aku belum mengerti bila ikan laut airnya harus air asin, tidak sama dengan ikan air tawar yang biasa hidup dari air sumur di rumah, walaupun asalnya dari sungai-sungai. Wah jadi geli mengingat kebodohanku di waktu kecil. Yah hitung-hitung belajar secara langsung ya he he.
Selain berenang, aku juga suka bermain pasir dengan membentuknya menjadi istana-istana yang kucetak dari ember kecil atau kaleng-kaleng bekas dan menyusunnya satu persatu sehingga membentuk sebuah istana yang indah (waktu itu kubilang indah..he he). Tapi aku akan senewen bila tiba-tiba ombak laut datang dan merubuhkan serta menyeret istana pasirku menjadi rata lagi. Sembari menggerutu biasanya aku akan pergi menemui orang tuaku, dan mereka bilang agar aku membuatnya kembali, sungguh jawaban yang datar sekali ya? Dan biasanya ibuku akan membelikanku jagung bakar yang banyak dijual disana, dan itu cukup membuat aku diam sejenak. Tak lama memakan jagung akau akan kembali mencari keong-keong cantik atau batu karang-batu karang yang banyak terdampar disana. Biasanya akan kukumpulkan dan kubawa pulang, walau sampai di rumah hanya kutaruh saja sebagai koleksi. Dan yang lucunya aku begitu takut bila badanku nyangkut pada rumput laut yang banyak tumbuh alami disana. Kupikir itu binatang yang menjijikkan karena bentuknya seperti karang dan licin-licin. Padahal sekarang ini aku baru menyadarinya, bahwa rumput yang licin dan menjijikkan itu ternyata mengandung protein dan serat yang tinggi dan baik untuk kesehatan kita semua. Rumput itulah yang biasa dibuat agar-agar sekarang ini, dengan rasa yang sudah bermacam-macam dan berwarna-warni dan sangat disukai anak-anak. Aku yang dulu jijik dengan rumput laut itu, sekarang senang sekali memakannya sebagai agar-agar, juga sebagai campuran untuk minuman atau es buah segar, bahkan sekarang sudah ada dodolnya juga. Ternyata Allah memberikan segala isi di bumi kita ini sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan kita semua. Subhanallah, walaupun telat aku baru menyadarinya setelah tua ini. Ini baru pelajaran kecil yang terbaca olehku, semoga kita semua cepat menyadari kekayaan alam bumi ini dan bisa belajar megolahnya dengan baik dan benar sehingga mampu memanfaatkannya baik untuk kita sendiri maupun untuk semua penduduk bumi ini.
Rumput laut ini sekarang sedang digalakkan pembudidayaannya, karena hasilnya yang cukup tinggi dan dapat mendongkak pendapatan nelayan yang juga sebagai petani rumput laut. Selain penghasilan yang cukup tinggi, petani rumput laut ini juga dapat menanami laut dengan gratis, karena tidak perlu membayar sewa kepada Allah yang mempunyai laut dan alam semesta ini. Jadi masih terbuka luas untuk bertani rumput laut. Semoga kita semua dapat mengelola laut dengan baik dan memanfaatkannya dengan baik...
Di laut kampungku itu aku biasa berenang di tepinya saja, ya jelas seumur aku sekolah dasar aku belum bisa berenang, yah bisa diduga pasti aku menggunakan ban sebagai penopang tubuhku. Tapi jangan harap ban renangku itu indah bergambar warna warna ataupun bergambar tokoh kartun seperti Mickey Mouse, Tom and Jerry idola anak-anak masa kini. Ban renangku hanyalah bekas ban dalam mobil yang sudah penuh tambal sana dan sini, itupun dengan menyewa pada penduduk setempat yang juga mendapatkan peluang usaha menyewakan ban. Ternyata penduduk setempat yang pekerjaaan sehari-harinya sebagai nelayan itu, mampu membaca peluang usaha yang ada di depannya. Walhasil pendapatan sampingan mereka jadi cukup lumayan, apalai bila hari liburan sekolah tiba, jelas pengunjung datang berbondong-bondong sampai tempat itu penuh sesak. Wah, Allah memang adil ya, semua mendapatkan rezeki sesuai dengan usaha mereka. Malah waktu itu aku sempat berfikir, "enak sekali ya bisa mendapatkan uang banyak dalam sehari saja?", padahal yang menyewakan ban ban untuk renang itu adalah anak-anak juga, yang bila selepas sekolah mereka membantu orang tuanya dan bila hari libur merekapun bekerja. Ada yang menyewakan ban, ada yang menjual umang-umang (itu lho sejenis keong yang suka ngumpet di dalam pasir di tepi pantai). Aku juga dulu suka membelinya, senang saja memainkannya karena bila kita usik, maka umang-umang itu akan masuk ke dalam cangkangnya yang digunakan sebagai rumah tempat tinggalnya. Ternyata di kota-kota besar masih kudapati penjual umang-umang ini, tapi menariknya mereka telah mengemasnya dengan melukis rumah umang-umang itu dengan berbagai macam gambar yang menarik hati anak-anak maupun orang dewasa. Rupanya penjual umang-umang sudah semakin cerdik dan pintar.
Aku juga suka menangkapi ikan-ikan kecil yang sangat indah dan berwarna warni, ada yang biru, kuning, merah campur hitam. Tapi aku dulu tidak tau namanya, aku hanya menyebutnya sesuai dengan warna ikan itu saja, si kuning, si biru dll. Aku akan memasukkan tangkapanku itu ke dalam ember kecil atau kaleng bekas yang selalu kubawa bila ke laut. Dulu aku dapat dengan mudah menangkap ikan-ikan kecil itu hanya dengan tanggok kecil aja, maka ikan bisa kudapat. Aku juga heran mengapa ikan-ikan itu senang bergerombol banyak di laut dekat bebatuan dan sangat mudah menangkapnya. Dan lucunya aku terkadang menangkap ikan yang tidak berwarna (transparan), tapi oleh ibuku disuruh dilepaskan kembali, katanya ikannya tidak cantik, dan kata ibuku dulu ikan itu namanya ikan Teri, biasa digoreng dan dimakan. Bila ingat itu aku tersenyum sendiri, bagaimana tidak karena sekarang aku masih suka memakan ikan teri itu baik digoreng juga sebagai ikan asinnya he he. Kembali ke ikan-ikan cantik yang berwarna-warni itu, biasanya sesampai di rumah aku senang memandanginya. Tapi beberapa hari kemudian akan mati, ternyata dulu aku mencampur airnya dengan air sumur di rumahku. Aku belum mengerti bila ikan laut airnya harus air asin, tidak sama dengan ikan air tawar yang biasa hidup dari air sumur di rumah, walaupun asalnya dari sungai-sungai. Wah jadi geli mengingat kebodohanku di waktu kecil. Yah hitung-hitung belajar secara langsung ya he he.
Selain berenang, aku juga suka bermain pasir dengan membentuknya menjadi istana-istana yang kucetak dari ember kecil atau kaleng-kaleng bekas dan menyusunnya satu persatu sehingga membentuk sebuah istana yang indah (waktu itu kubilang indah..he he). Tapi aku akan senewen bila tiba-tiba ombak laut datang dan merubuhkan serta menyeret istana pasirku menjadi rata lagi. Sembari menggerutu biasanya aku akan pergi menemui orang tuaku, dan mereka bilang agar aku membuatnya kembali, sungguh jawaban yang datar sekali ya? Dan biasanya ibuku akan membelikanku jagung bakar yang banyak dijual disana, dan itu cukup membuat aku diam sejenak. Tak lama memakan jagung akau akan kembali mencari keong-keong cantik atau batu karang-batu karang yang banyak terdampar disana. Biasanya akan kukumpulkan dan kubawa pulang, walau sampai di rumah hanya kutaruh saja sebagai koleksi. Dan yang lucunya aku begitu takut bila badanku nyangkut pada rumput laut yang banyak tumbuh alami disana. Kupikir itu binatang yang menjijikkan karena bentuknya seperti karang dan licin-licin. Padahal sekarang ini aku baru menyadarinya, bahwa rumput yang licin dan menjijikkan itu ternyata mengandung protein dan serat yang tinggi dan baik untuk kesehatan kita semua. Rumput itulah yang biasa dibuat agar-agar sekarang ini, dengan rasa yang sudah bermacam-macam dan berwarna-warni dan sangat disukai anak-anak. Aku yang dulu jijik dengan rumput laut itu, sekarang senang sekali memakannya sebagai agar-agar, juga sebagai campuran untuk minuman atau es buah segar, bahkan sekarang sudah ada dodolnya juga. Ternyata Allah memberikan segala isi di bumi kita ini sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan kita semua. Subhanallah, walaupun telat aku baru menyadarinya setelah tua ini. Ini baru pelajaran kecil yang terbaca olehku, semoga kita semua cepat menyadari kekayaan alam bumi ini dan bisa belajar megolahnya dengan baik dan benar sehingga mampu memanfaatkannya baik untuk kita sendiri maupun untuk semua penduduk bumi ini.
Rumput laut ini sekarang sedang digalakkan pembudidayaannya, karena hasilnya yang cukup tinggi dan dapat mendongkak pendapatan nelayan yang juga sebagai petani rumput laut. Selain penghasilan yang cukup tinggi, petani rumput laut ini juga dapat menanami laut dengan gratis, karena tidak perlu membayar sewa kepada Allah yang mempunyai laut dan alam semesta ini. Jadi masih terbuka luas untuk bertani rumput laut. Semoga kita semua dapat mengelola laut dengan baik dan memanfaatkannya dengan baik...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar