
Sepanjang perjalanan dari Jakarta yang kulalui berharap sampai di kota kelahiranku dan berjarak 6 jam saja melewati pelabuhan Merak yang berada di Cilegon. Berangkat dari Jakarta setelah sholat subuh biar tidak terjebak macet pikirku. Tapi ternyata karena Sabtu ini hari libur, pagi haripun jalanan sudah mulai ramai diisi dengan mobil-mobil yang kurasa isinyapun sama, yaitu keluarga yang hendak berlibur. Akupun agak sedikit mempercepat laju mobil yang kukendarai, dan terus terang saja ini kali pertamaku pulang kampung mengendarai mobil sendiri. Biasanya aku menumpang dengan keluarga kakakku, tapi karena tempatnya penuh dengan barang bawaan, maka tentu saja kami sekeluarga dengan 3 jiwa ini tidak dapat menumpang tentunya. Yah akhirnya dengan terpaksa aku beralih profesi menjadi supir cadangan. Untungnya ada keponakanku yang mau menggantikan bila aku mulai letih mengendarai mobil yang harus sedikit berkonsentrasi karena jalanannya banyak yang berlubang. Kadang-kadang anakku meledekku, katanya jalanannya sudah seperti wajahku yang banyak berlubang bekas jerawat yang kupencet-pencet sehingga membengkak dan akhirnya berlubang-lubang. Wah kalo kupikir-pikir ada benarnya juga he he.
Sepanjang perjalanan di Jakarta sangat bosan dengan pemandangan kotak-kotak bangunan yang menjulang tinggi dan kemacetan yang membuat penat kaki. Mungkin kalau bisa protes tentunya kaki inipun minta diganti dengan yang baru biar fit lagi. Akhirnya kamipun dapat menikmati pemandangan Sawah yang menghampar, walaupun dijung sawah itu sudah mulai muncul bangunan yang bertebaran. Kupikir sebentar lagipun di sepanjang jalan tol Merak ini nantinya tidak akan dapat lagi kunikmati hamparan hijau sawah seperti ini. Kemanakah para petani itu kakan pergi mencari tanah pengganti ya?
Diujung jalan keluar tol Merak, kamipun disuguhi hamparan laut yang membentang luas dan kelihatan tak bertepi. Entah mengapa walaupun sudah sangat sering melihat lautan, aku tidak pernah bosan memandangnya lagi. Entahlah, seperti ada banyak hal dalam lautan yang masih menyimpan misteri, lautan sangat mempesona dan mengandung sedikit misteri menurutku. Aku tak pernah dapat menjabarkannya dengan baik perasaanku tentang lautan. Jika malam hari wajah lautan sangat mengagumkan dan sedikit membuat takut dalam sanubari ini. Mungkin karena aku sering melihat warnanya yang hijau dan tak dapat ditembus mata ke bawah, betapa dalamnya lautan itu, bagaimana kehidupan di dalamnya. Ada apa saja di bawah sana, dan banyak pertanyaan menggelayuti hati ini.
Akhirnya sampailah kami di kapal yang akan membawa kami ke kampung halaman tercinta. Tentu saja masih memandangi lautan dan terkadang sedikit melihat tontonan ikan-ikan besar yang melompat di atas permukaan laut dengan indahnya. Gugusan pulau-pulau kecil yang ada sekaligus menambah keindahan lautan ini dengan warna hijau tanaman di atasnya. Puas memandang laut kamipun tertidur selama perjalanan ini, lumayan hitung-hitung mengisi batere agar waktu bangun sudah segar lagi. Sesekali tidur terganggu dengan suara musik yang menghentak keras dari kapal ini. Bunyi terompet kapal 3 kali, membuat kami semua bersiap-siap yang tandanya kapal telah sampai di pelabuhan BakauHeni, hanya 2 jam saja ternyata.
Kembali mobil menuruni kapal dan kamipun mendarat di ujung pulau Sumatera ini, tentu saja senang hati ini. Sepanjang perjalanan masih banyak kebun-kebun di kanan dan kiri, seperti kebun pisang, kebun jagung, singkong dan sesekali diselingi tambak udang yang menghampar. Pemandangan ini sangat melegakan hati. Mataku tertumbuk pada hamparan lapangan kosong yang ditubuhi ilalang yang sudah sangat tinggi, dan serentak sedang berbunga warnanya putih seperti kapas, indah sekali. Mungkin bangi petani, ilang ini merupakan musah besar yang sangat menggangu sekali, tetapi Allah SWT menciptakan apa saja di muka bumi ini tidaklah sia-sia dan selalu ada manfaatnya. Teringat d waktu kecil aku senang sekali mengambil bunga ilalang ini dan menaruhnya di dalam kaleng bekas yang kujadikan sebagai vas bunga, indah sekali menurutku waktu itu dan sampai kini akupun masih menyukainya. Tapi aku sering dimarahi ibuku bila membawa pulang sering-sering, karena sehabis memetik bunga ilalang itu aku akan menjadi gatal-gatal dari tangan, kaki dan wajahku yang terkena sewaktu memetiknya. Dan belum lagi bajuku menjadi sulit dicuci karena butiran-butiran biji di dalam bunga ilalang terlepas dan menyangkut di bajuku. Walaupun mengomel ibuku akan memberi badanku seperti minyak telon untuk mengurangi gatal di badanku. Anehnya aku tetap tidak kapok juga dan terus membawa bunga ilalang bila sehabis bermain dengan teman-teman.
Ternyata walaupun sebagai gulma yang mengganggu tanaman pertanian, ilalang juga sekarang telah ditemukan manfaat positifnya. Seperti akar ilalang sudah dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan sudah dijual di pasar-pasar tradisional maupun di swalayan besar, Subhanallah! Belum lagi daunnya yang keset dan tajam itu dapat digunakan sebagai makanan ternak, juga dianyam sebagai atap rumah. Juga potongan daun keringnya dapat dibuat mulsa untuk menutupi tanah agar tanah tetap gembur dan subur. Ternya ilalang ini banyak juga manfaatnya, sungguh tidak sia-sia ciptaan Ilahi Robbi. Semoga kita semua akhirnya dapat menguak satu persatu setiap ciptaannya yang masih belum kita mengerti manfaatnya kini. Amin.
Sepanjang perjalanan di Jakarta sangat bosan dengan pemandangan kotak-kotak bangunan yang menjulang tinggi dan kemacetan yang membuat penat kaki. Mungkin kalau bisa protes tentunya kaki inipun minta diganti dengan yang baru biar fit lagi. Akhirnya kamipun dapat menikmati pemandangan Sawah yang menghampar, walaupun dijung sawah itu sudah mulai muncul bangunan yang bertebaran. Kupikir sebentar lagipun di sepanjang jalan tol Merak ini nantinya tidak akan dapat lagi kunikmati hamparan hijau sawah seperti ini. Kemanakah para petani itu kakan pergi mencari tanah pengganti ya?
Diujung jalan keluar tol Merak, kamipun disuguhi hamparan laut yang membentang luas dan kelihatan tak bertepi. Entah mengapa walaupun sudah sangat sering melihat lautan, aku tidak pernah bosan memandangnya lagi. Entahlah, seperti ada banyak hal dalam lautan yang masih menyimpan misteri, lautan sangat mempesona dan mengandung sedikit misteri menurutku. Aku tak pernah dapat menjabarkannya dengan baik perasaanku tentang lautan. Jika malam hari wajah lautan sangat mengagumkan dan sedikit membuat takut dalam sanubari ini. Mungkin karena aku sering melihat warnanya yang hijau dan tak dapat ditembus mata ke bawah, betapa dalamnya lautan itu, bagaimana kehidupan di dalamnya. Ada apa saja di bawah sana, dan banyak pertanyaan menggelayuti hati ini.
Akhirnya sampailah kami di kapal yang akan membawa kami ke kampung halaman tercinta. Tentu saja masih memandangi lautan dan terkadang sedikit melihat tontonan ikan-ikan besar yang melompat di atas permukaan laut dengan indahnya. Gugusan pulau-pulau kecil yang ada sekaligus menambah keindahan lautan ini dengan warna hijau tanaman di atasnya. Puas memandang laut kamipun tertidur selama perjalanan ini, lumayan hitung-hitung mengisi batere agar waktu bangun sudah segar lagi. Sesekali tidur terganggu dengan suara musik yang menghentak keras dari kapal ini. Bunyi terompet kapal 3 kali, membuat kami semua bersiap-siap yang tandanya kapal telah sampai di pelabuhan BakauHeni, hanya 2 jam saja ternyata.
Kembali mobil menuruni kapal dan kamipun mendarat di ujung pulau Sumatera ini, tentu saja senang hati ini. Sepanjang perjalanan masih banyak kebun-kebun di kanan dan kiri, seperti kebun pisang, kebun jagung, singkong dan sesekali diselingi tambak udang yang menghampar. Pemandangan ini sangat melegakan hati. Mataku tertumbuk pada hamparan lapangan kosong yang ditubuhi ilalang yang sudah sangat tinggi, dan serentak sedang berbunga warnanya putih seperti kapas, indah sekali. Mungkin bangi petani, ilang ini merupakan musah besar yang sangat menggangu sekali, tetapi Allah SWT menciptakan apa saja di muka bumi ini tidaklah sia-sia dan selalu ada manfaatnya. Teringat d waktu kecil aku senang sekali mengambil bunga ilalang ini dan menaruhnya di dalam kaleng bekas yang kujadikan sebagai vas bunga, indah sekali menurutku waktu itu dan sampai kini akupun masih menyukainya. Tapi aku sering dimarahi ibuku bila membawa pulang sering-sering, karena sehabis memetik bunga ilalang itu aku akan menjadi gatal-gatal dari tangan, kaki dan wajahku yang terkena sewaktu memetiknya. Dan belum lagi bajuku menjadi sulit dicuci karena butiran-butiran biji di dalam bunga ilalang terlepas dan menyangkut di bajuku. Walaupun mengomel ibuku akan memberi badanku seperti minyak telon untuk mengurangi gatal di badanku. Anehnya aku tetap tidak kapok juga dan terus membawa bunga ilalang bila sehabis bermain dengan teman-teman.
Ternyata walaupun sebagai gulma yang mengganggu tanaman pertanian, ilalang juga sekarang telah ditemukan manfaat positifnya. Seperti akar ilalang sudah dimanfaatkan sebagai tanaman obat dan sudah dijual di pasar-pasar tradisional maupun di swalayan besar, Subhanallah! Belum lagi daunnya yang keset dan tajam itu dapat digunakan sebagai makanan ternak, juga dianyam sebagai atap rumah. Juga potongan daun keringnya dapat dibuat mulsa untuk menutupi tanah agar tanah tetap gembur dan subur. Ternya ilalang ini banyak juga manfaatnya, sungguh tidak sia-sia ciptaan Ilahi Robbi. Semoga kita semua akhirnya dapat menguak satu persatu setiap ciptaannya yang masih belum kita mengerti manfaatnya kini. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar