Rabu, 24 Juni 2009

Lagu semasa kecilku

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, dan tugas harianku membenahi rumah sudah selesai. Menyapu butiran-butiran debu yang menghitam karena terselimuti udara di Jakarta yang tersesaki oleh polisi eh polusi. Yang kadang membuatku bersin-bersin mendadak ketika kumpulan debu-debu itu tersapu lewat wajahku dan tentunya tanpa permisi lagi masuk ke dalam hidungku (yang lumayan besar he he), tentunya debu-debu itu leluasa berlarian menuju hidungku dan inginnya masuk ke dalam paru-paru untuk bertamu. Huh! enak sekali dia masuk tanpa meminta ijin dulu padaku. Sembari mengomel dalam hati tetap saja kukumpulkan onggokan debu-debu itu dan menguncinya dalam tempat sampah. Biar dia bisa merasakan betapa tidak enaknya aku ketika dia menggelitiki hidungku, rasakan itu!
Pekerjaan pertama telah kuselesaikan dengan mulusnya, he eh kenapa aku jadi agak narsis begini ya? Tapi kan sekarang narsis sedang naik daun, bolehlah aku sedikit tertular itu. Ah sudahlah, aku harus mengambil ember dan mengisinya dengan air serta campuran satu tutup botol karbol, ramuan ini sungguh sangat berkhasiat untuk membuat lantai mengkilap serta bebas kuman (tentu saja ini promosi dari produsen karbol itu tentunya). Kelihatan mengkilap memang! Sudahlah yang penting tugas keduapun sudah aku rampungkan dengan sempurna menurut mataku, karena semua lantai telah terlihat basah merata, walau kadang-kadang aku lupa untuk sering membilasnya, jadi kebersihannya kayanya belum teruji he he. Yang yang penting sudah menggugurkan tugas kedua ini. Jadi teringat waktu ku kecil, yang penting tugas selesai, hasil dipikirin belakangan.
Yup! Sekarang melompat ke pekerjaan ketiga, apalagi kalo bukan menggosok baju yang dicuci kemarinnya tentunya. Pekerjaan menggosok kukerjakan dengan kilat khusus, karena pinggang sudah mulai ngadat menggeliat kanan dan kiri minta penangguhan dari duduk, maksudnya tiduran gitu, mungkin si pinggang sudah mulai bosan duduk tanpa gaya. Mana kaki juga mulai ikutan ngadat minta diselonjorin. Ya sudah jadilah menggosok cepat ala ibu pemalas ini, alias melipat baju dan menggosok hanya sekedarnya saja, licin dan rapih tidak ditanggung he he. Selesai juga baju-baju itu berbaris dengan rapih dan siap diantarkan ke dalam lemari.
Akhirnya sampai juga aku di depan TV, tentunya saja di atas kursi panjang tuaku hasil warisan dari Pamanku yang sudah tiada. Betapa leganya ketika kuselonjorkan kaki, kuambil bantal untuk menopang leher yang sudah bosan menggantung terus he he. Sedikit suara gemeretak tulang-tulang tangan dan kaki ketika aku menggeliatkan badan ini. Dan kuambil remote TV dan kunyalakan sembarangan saluran. Duh! Kulihat pemandangan indah di layar kaca kecil itu, betapa tidak, hamparan luas lautan yang membiru, menghampar di bumi kita Indonesia ini, belum lagi keindahan pegunungannya yang kokoh berdiri gagah dan kuat, begitu mempesona. Ombak lautan yang sesekali membuat garis-garis putih datang menghampiri tepian dan beberapa saat kemudian pergi. Sungguh indah dan harmoni sekali wajah lautan. Dan ketika melihat ke atas, langit yang membirupun menghampar mengayomi lautan dan gunung di bawahnya. Tak kalah dengan laut, langitpun dihiasi dengan awan-awan yang bergerak beriringan seperti anak-anak kecil berjajar bersama dan bermain senang.
Aku jadi teringat sebuah lagu sewaktu aku kecil dulu, ada sedikit yang masih terekam dalam benakku hingga sekarang, dan jujur saja aku lupa akan judulnya apalagi pencipta lagunya. Tapi aku sangat berterima kasih bagi pencipta lagu tersebut, karena lagu itu selalu membuatku tersentuh dan teringat akan kekuasaan Allah yang mempunyai laut, gunung dan langit yang begitu indah tak bertepi. Ini penggalan lagu tersebut:
Betapa kecil diriku rasa
Setiap kali langitku pandang
Hanyalah satu hanyalah Puji
Yang dapat kuucapkan saja
Langit langit tiada batas tinggi dan luas
Langit langit
Betapa besar Agung Raya
Alam Semesta
Aku hanya mengingat sepenggal bagian itu saja, mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dari lagu tersebut. Anehnya lagu itu kunyanyikan sewaktu aku duduk di sekolah dasar lebih dari 30 tahun lalu dan sampai sekarang aku masih sering menyenandungkannya. Entahlah ada apa dengan lagu itu sehingga masih terekam kuat dalam memori otakku. Terkadang bila menyanyikannya aku begitu menjiwainya sepenuh hati, sampai buliran air mata terjatuh menetes satu persatu. Entah mengapa hal itu terjadi sampai sekarang aku tidak tahu. Aku hanya merasakan begitu kecilnya diri ini di hadapan empunya langit dan bumi ini. Tetesan air mata itu mengiringi slide-slide masa lalu, dan menampakkan rentetan-rentetan kesalahan masa kecilku, langkah-langkah keliru di masa dewasa hingga aku sekarang ini. Sepertinya lagu itu mengingatkan diriku akan kuasa Ilahi pemilik langit dan bumi ini. Semoga aku dapat mengedit diri ini dan mengisi coretan-coretan hidupku dengan baik seperti yang kuinginkan dan sesuai dengan jalanNya yang lurus. Selalu berharap! Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar